IndonesianEnglishThaiChinese (Simplified)KoreanJapaneseFrenchGerman

Article

Sharing:
  • 11
    Shares

Catatan Gowes Bpk Arief F. Rachman (Dosen STP Trisakti) Day 3

Udara pagi yang dingin di Wae Rebo Lodge membuat kami malas untuk mandi. Pukul 5 pagi aktifitas di penginapan ini sudah dimulai bagi tamu yang akan menuju desa adat Wae Rebo. Namun sayang bagi kami ternyata kunjungan ke desa adat ini tidak jadi kami lakukan karena waktu yang terlalu lama untuk berkunjung ke sana, perlu waktu 7 jam untuk program ke desa adat ini untuk lembali ke penginapan. Semoga di lain waktu kami bisa mengunjungi desa adat Wae Rebo.

Pukul 8 pagi kami baru meninggalkan Wae Rebo Lodge menuju Borong melalui beberapa Desa seperti Dintor-Terong Iteng-Nanga Lanang-Trans Flores-Borong. Kami lebih memilih melewati jalan pesisir lagi karena jarak yang lebih pendek.

Jalan yang kami pilih memang bukan jalan umum untuk rute bersepeda. Kami memilih jalan pesisir lagi dengan menghadapi rintangan jalan yang rusak dan jembatan yang terputus. Tapi syukur kami bisa melewat rintangan tersebut. Dengan MTB touring giant 29″ saya dengan mudah merintangi rute offroad walaupun tanpa shockbreaker.

Sementara rekan Ireng harus sedikit berusaha keras menggunakan MTB touring Federal 27,5″ karena ban yang digunakan jenis Maxxis Detonator dan sedikit bermasalah dengan seatpost yang merosot terus dan tanpa shockbreaker.

Jalan kecil dan beraspal baik juga kadang ada rintangannya. Jembatan kecil kadang menjadi rusak karena sering dilalui truk bermuatan batu. Dengan sepeda Moots Cyclo Cross, rekan Thio sangat menikmati rute offroad melaui pesisir selatan walaupun sedikit licin ketika melintasi batu besar dan jalan basah.

Jembatan yang putus dan dialiri sungai yang besar membuat penduduk setempat membuat jembatan darurat. Kesempatan ini kami gunakan untuk berfoto dan menikmati kejernihan dan sejuknya air pegunungan. Dengan tipe sepeda yang sama seperti saya (Giant Thoughroad 29″) dan dilengkapi shockbreaker Manitou, sepeda rekan Eddy dirasakan sangat cocok di rute ini.

Tepat pukul 12 siang kami memasuki Desa Nanga Lanang. Sepanjang jalan kami tidak menemukan tempat makan. Terpaksa kami akhirnya mendatangi rumah penduduk dan meminta mereka untuk memasak ikan dan nasi. Akhirnya kami bisa menikmati makan siang. Ketika kami mau membayar merekapun tidak tahu mau dikasih harga berapa? Akhirnya kami memberikan harga yang kami rasa lebih dari cukup untuk makan siang yang kami santap. Alhamdulillah juga saya mempunyai kesempatan untuk Sholat Jumat di desa ini.

Sepanjang jalan di beberapa desa yang kami lewati selalu disambut hangat oleh penduduk sekitar, termasuk anak-anak. “Hallo…, Mister…, mister…, good morning…”, itulah  sapaan yang diucapkan oleh penduduk lokal. Kami juga heran kenapa dipanggil mister. Ternyata kami dipanggil mister karena biasanya yang berwisata  sepedake perdesaan mereka ternyata selalu wisatawan asing. Jadi kami akhirnya dipanggil mister.

Dalam merintangi medan off the beaten track ini memang pemilihan penggunaan sepeda juga menentukan kenyamanan selama perjalanan. Sepeda MTB Touring sangatlah cocok apalagi jika menggunakan ban 29″, selebihnya kemampuan pengendara juga menentukan kenyamanan. Beberapa kali sepeda Giant Thougroad 29″ mampu melibas jalan berair dan berbatu dengan mudah.

Setelah berjibaku dengan jalan yang kondisinya rusak, akhirnya kami menemukan jalan Trans Flores. Jalan ini memiliki kondisi yang sangat baik walaupun masih ada tanjakan dan turunan. Kami langsung menuju Borong, akhirnya tepat pukul 14.25 kami tiba Hotel Kasih Sayang, Kecamatan Borong setelah menempuh jalur offroad sejauh 52 Km.

Oleh: Arief F. Rachman (03-08-2018)

Author: malik

(Visited 18 times, 1 visits today)