IndonesianEnglishThaiChinese (Simplified)KoreanJapaneseFrenchGerman

Article

Sharing:

SERANG, ESKULNEWS

Pelatihan jurnalistik, terdiri dari pelatihan menulis artikel dan pelatihan fotografi, yang merupakan bagian dari rangkaian pelatihan pada program pendampingan desa wisata oleh Akademisi yang diselenggarakan di aula desa Cikolelet Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Selasa (30/04/2019).

Program pendampingan desa wisata oleh Akademisi merupakan program yang difasilitasi oleh Kemenpar dan melibatkan puluhan perguruan tinggi dan desa wisata di 7 provinsi di seluruh Indonesia. Dalam program ini, STP Trisakti mengambil 2 desa wisata sebagai binaan, yaitu desa wisata Cikolelet di Kabupaten Serang, Banten, dan Desa Wisata Cipasung di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Peserta pelatihan ini berjumlah 20 orang dan diambil dari warga Desa Cikolelet dengan mahasiswa UKM Pers STP Trisakti sebagai narasumbernya.

Kepala Puslitdimas STP Trisakti mengatakan, tujuan dari kegiatan ini selain untuk mensukseskan program Kemenpar dalam memajukan desa wisata, juga untuk memenuhi salah satu tri darma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Manfaat lain yang didapat melalui program ini adalah sebagai sarana belajar bagi mahasiswa yang suatu hari akan terjun membangun masyarakat.

“Program semacam ini memungkinkan mahasiswa mengaplikasikan ilmu yang didapat dan melatih soft skills mereka, seperti bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat dan lain sebagainya,” ujarnya.

Kepala Desa Cikolelet Ojat Darojat menyatakan bahwa program pelatihan seperti ini bagus dan perlu diteruskan untuk membangun SDM di desa wisata, terlebih karena desa wisata masih mendapat kendala dalam pemasarannya.

“Kegiatan ini sangat bagus dan perlu terus dikembangkan untuk membangun SDM di desa wisata, serta keterlibatan mahasiswa juga dipandang perlu sebagai pembelajaran sebelum mereka lulus dari kampus dan berkarya di tengah masyarakat,” ujarnya.

Rama Putra, mahasiswa S1 Hospitality STP Trisakti yang menjadi salah satu narasumber dalam pelatihan ini mengatakan, beda sekali presentasi di depan kelas dengan jadi narasumber barusan. Pengalaman baru, ungkapnya.

Sementara Rina Fitriana sebagai koordinator lapangan berkomentar singkat mengenai program pendampingan ini,

“Kegiatan semacam ini sangat bagus karena mendorong dosen dan mahasiswa untuk berbagi ilmu dengan masyarakat desa. Ilmu kan soal kebermanfaatannya, bukan banyaknya.” pungkasnya. (Apdar)

Author: lihan

Leave a Reply

87 − 83 =

(Visited 19 times, 1 visits today)