Article

Sharing:

Community Service & Edutrip Program


UNTUK mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti melakukan kunjungan dan kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah guna membangun berbagai potensi pariwisata setempat.

Kerja sama itu di antaranya dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, untuk membangun pariwisata Desa Cibuntu sejak enam tahun lalu. Kemudian dengan Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, dalam dua tahun terakhir ini.

“Apa yang kami kerjasamakan dengan kalangan pemerintah daerah tersebut, alhamdulillah berjalan baik dan mendapat respons masyarakat dan pejabat pemda terkait. Ini merupakan bentuk tanggung jawab perguruan tinggi khususnya STP Trisakti melaksanakan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi,” kata Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati di Jakarta, belum lama ini.

Fetty menjelaskan, rintisan membangun Desa Cibuntu diawali dengan akademisi dan mahasiswa S2 STP Trisakti, pihakmya memberikan pelatihan keterampilan pariwisata kepada penduduk dan jajaran pemda setempat. Mereka diberi pelatihan tentang pengetahuan, pengembangan produk kuliner, homestay, dan pelayan tamu yang datang ke Cibuntu.

Berkat kerja keras dan kerja cerdas, kini Cibuntu menjadi desa wisata yang mandiri bahkan meraih penghargaan nasional dan internasional. Desa Cibuntu telah dinobatkan menjadi desa wisata terbaik urutan lima tingkat ASEAN pada 2016 untuk bidang homestay. Di 2017, Cibuntu terpilih sebagai desa wisata terbaik peringkat dua di Indonesia dalam ajang Community Based Tourism (CBT) Kementerian Pariwisata.

“Keberhasilan ini tidak lepas kerja sama sinergis dan strategis antara sivitas akademika, para dosen, dan keterlibatan aktif mahasiswa berbagai jenjang pendidikan berkolaborasi dengan masyarakat Desa Cibuntu yang berjalan amat baik dengan mengedepankan kearifan lokal desa ini,” ujarnya.

Fetty melanjutkan, keberhasilan ini membuktikan peran perguruan tinggi dalam membangun SDM dan menata destinasi wisata di berbagai daerah menjadi amat penting dan strategis.

Karena itu, STP Trisakti mengembangkan kerja sama selanjutnya dengan Pemkot Pekalongan melalui program pelatihan dan kunjungan ke kampung penghasil batik terkenal di dunia itu, yang pada 2009 meraih dua penghargaan Unesco untuk pengakuan Warisan Budaya Dunia Non-Benda yaitu batik Pekalongan dan Benda Warisan Budaya Dunia, yaitu Museum Batik Pekalongan.

Belum lama ini, Yayasan Trisakti bersama STP yang berada di bawah naungannya membawa rombongan 375 orang pada 6–9 Februari 2018, kemudian 20 mahasiswa berkunjung ke Kota Pekalongan pada 10-13 Februari 2018.

“Kunjungan kami ini sebagai perwujudan langkah nyata kerja sama kami dalam membina, mendukung pembangunan, dan pertumbuhan industri pariwisata di Kota Pekalongan. Kami merasakan adanya pertumbuhan dan geliat potensi wisata dan kuliner daerah ini menjadi hidup dan harus terus dikembangkan sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat setempat, ” papar Fetty.

Wakil Ketua STP Trisakti, Ismet Emier Osman, menambahkan, pihak Pemkot Pekalongan harus lebih kreatif mengemas potensi pariwisata di daerahnya sehingga dapat lebih menarik pengunjung.

Menurutnya, Kota Pekalongan masih harus berupaya dan membenahi diri dalam mutu pelayanan dan atraksi wisatanya, sehingga citranya dapat ditingkatkan bukan saja sebagai kota transit akan tetapi menjadi kota destinasi wisata unggulan yang berdaya saing. (OL)


sumber: mediaindonesia.com

Author: admin-oke

(Visited 58 times, 1 visits today)