IndonesianEnglishThaiChinese (Simplified)KoreanJapaneseFrenchGerman

Article

Sharing:

STP Trisakti Kebanjiran Peminat


Dunia pariwisata yang makin trendi akhir-akhir ini memberi dampak pada Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti. Kampus yang berlokasi di kawasan Bintaro Jakarta Selatan itu pun kebanjiran peminat.

Seperti dikemukakan Ketua STP Trisakti, Fetty Asmaniati, pihaknya tahun ini membatasi penerimaan mahasiswa baru sebanyak 600 orang untuk kelas reguler untuk menjaga kualitas. Sedangkan program double degree dengan kampus asing, peserta dibatasi hanya 25 orang.

“Untuk program double degree ini, kami kerja sama dengan kampus ternama di Swiss, International Management Institute (IMI) Switzerland. Mahasiswa belajar 2 tahun di STP Trisakti dan 2 tahun IMI Swiss,” tutur Fetty di kampusnya, Minggu (9/9).

Model perkuliahan semacam itu, menurut Fetty, biayanya bisa jadi lebih murah. Bahkan biayanya bisa berkurang hingga 50 persen dibandingkan kuliah di Swiss secara penuh.

“Uang kuliah untuk double degree sekitar Rp800-900 juta per orang hingga selesai. Ini murah jika langsung kuliah di Swiss, bisa Rp2 miliar,” tuturnya.

Meski berharga mahal, lanjut Fetty, program dual degree juga ada peminat. Namun pihaknya membatasi hanya 25 peserta. “Hampir sebagian besar lulusan dual degree langsung bekerja di industri pariwisata dunia. Karena jejaring mereka internasional,” tuturnya.

Ditambahkan, lulusan kelas reguler STP Trisakti pun tak sulit menembus pasar kerja di dalam dan luar negeri. Apalagi saat ini industri pariwisata sedang berkembang sedemikian pesatnya.

“Ada ratusan jenis pekerjaan yang tersedia di industri pariwisata mulai dari hotel, penerbangan, kuliner yang meliputi restoran, coffee shop, club hingga tour wisata di berbagai belahan dunia,” katanya.

Luasnya profesi yang tersedia di industri pariwisata menjadi salah satu pendorong bagi Carlin patricia, alumnus SMA Santa Ursula Bumi Serpong Damai (BSD) mendaftar ke STP Trisakti. Ditemui disela ujian saringan mahasiswa baru, Carlin memilih jurusan usaha perjalananan wisata.

“Saya hobi jalan-jalan. Setelah lulus bisnis tour and travel,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Dewi Henria, alumnus SMA Mater Dei Tangerang. Ia tertarik jurusan perhotelan. Begitupun dengan Karius Wenda, lulusan SMK Yapesli Wamena Papua. Karius memilih sekolah di Jakarta demi mengejar karirnya di perhotelan.

Ketertarikan serupa disampaikan Audrey Felicia, orangtua dari Clarisa Natalie. Ia tengah menunggu anaknya yang sedang ikut ujian. “Clarissa tertarik manajemen perhotelan. Sebagai orangtua saya mendukung pilihannya. Karena bisnis ini akan berkembang di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu Indriani, ibunda dari Stefen Oktaviano, lulusan SMA Citra Berkat Tangeranf mendukung cita-cita anaknya yang ingin berkarir di perhotelan. “Sudah mantab mau kuliah di STP Trisakti. Saya lihat peluang kerja di pariwisata lebih besar dibanding bidang lain,” kata Indriani menandaskan.


Tri Wahyuni | Suara Karya

Author: admin-oke

Leave a Reply

30 − = 22

(Visited 44 times, 1 visits today)