IndonesianEnglishThaiChinese (Simplified)KoreanJapaneseFrenchGerman

Article

Sharing:

Dosen STP Trisakti Beri Pelatihan Homestay


Dalam rangka mempersiapkan Keraton Kesultanan Banten (KKB) dan Kecamatan Tenara menjadi destinasi wisata religi yang unggul, Dinas Pariwisata Provinsi Banten dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bekerjasama mengadakan pelatihan bagi pengelola homestay di kawasan tersebut. Pelatihan yang bertempat di ruang pertemuan Sanghyang Sirah Hotel Le Semar, Kota Serang, ini mengangkat tema, “Melalui Pelatihan Pengelola Homestay, Kita Tingkatkan Kapasitas SDM Pariwisata di Provinsi Banten”. Pelatihan ini berlangsung selama 2 hari (24-25 Juni 2017) dan diikuti oleh 70 (tujuh puluh) peserta yang terdiri dari pengelola homestay, perwakilan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) serta pengusaha makanan minuman dan oleh-oleh.

Dalam sambutannya, Sekretaris Dinas Pariwisata Provinsi Banten Wadiyo mengatakan bahwa potensi pariwisata Banten begitu luar biasa, terlebih dalam hal wisata religi. Diakuinya bahwa Banten pada masa keemasannya merupakan kota pelabuhan yang ramai, dimana perdagangan hasil buminya menjadi sector yang diandalkan dan masyarakatnya tergolong modern.

“Bayangkan saja bagaimana pada zaman itu Banten sudah mampu mengirimkan duta besarnya ke Inggris. Hal ini menunjukkan bahwa Kesultanan Banten pada masanya sudah merupakan sebuah Negara yang maju,” ujarnya.

Wadiyo melanjutkan bahwa diharapkan dengan adanya kegiatan pariwisata di kedua kawasan tersebut, kemakmuran masyarakat bisa ditingkatkan.

“Homestay ini bisa dijalankan oleh warga sekitar untuk menambah penghasilan, mengingat penziarah juga banyak yang menginap dan membutuhkan akomodasi yang harganya terjangkau,” tambahnya.

Dalam paparannya, Rina Fitriana, akademisi Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta mengingatkan bahwa mengembangkan pariwisata di daerah religius seperti Banten bukan merupakan hal yang mudah karena di pikiran sebagian orang, kegiatan pariwisata masih identik dengan kemaksiatan. Karenanya menjadi tugas semua pelaku wisata untuk bersama-sama menunjukkan bahwa wisata memiliki banyak sekali dimensi, termasuk di dalamnya dimensi ibadah yang salah satunya melalui wisata religi.

“Dalam Al Quran saja sudah jelas disebutkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Nah, dalam homestay ini jangan dikira tidak ada dimensi itu. Dengan menginap, tamu dan pengelola kan jadi saling mengenal budaya masing-masing sesuai dengan yang dikatakan oleh ayat tadi. Belum lagi dimensi silaturahmi yang bisa terjalin dengan tetangga. Misalkan kita punya homestay, tetangga bikin emping, yuk kita persilakan tetangga menitipkan dagangannya di homestay kita. Selain secara finansial kita dapat persentase, kita juga sudah melakukan kebaikan pada tetangga.” ungkapnya.

Pelatihan ini juga menghadirkan Muhammad Yanuar selaku Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Provinsi Banten yang menyoroti penataan homestay dalam kawasan strategis pariwisata. Selain itu hadir pula Heri Hermawan selaku perwakilan Kemenpar dan narasumber pusat yang dalam paparannya menyoroti tentang pentingnya penerapan budaya lokal dalam pengelolaan sehari-hari homestay, serta Titin Soekarja selaku pemerhati pariwisata yang membahas tentang karakteristik dan standarisasi homestay di desa wisata.

Pada hari kedua, seluruh peserta, narasumber dan panitia melakukan kunjungan ke beberapa homestay yang berada di daerah Tanjung Lesung. Salah satu peserta yang juga Ketua Pokdarwis Ki Amuk, Arfah, menyatakan bahwa pelatihan ini semakin membuka wawasan dan memperkaya pengetahuannya tentang usaha pariwisata khususnya di bidang homestay.

“Kami dari Pokdarwis semakin paham bagaimana pengelolaan homestay yang baik, dan bagaimana sebenarnya peran kami dalam usaha pariwisata masyarakat di desa.” Jawabnya saat ditanya manfaat yang didapatnya dari pelatihan homestay yang baru saja diikuti. (Laporan : RF/EPF)


Author: admin-oke

Leave a Reply

9 + 1 =

(Visited 9 times, 1 visits today)