IndonesianEnglishThaiChinese (Simplified)KoreanJapaneseFrenchGerman

Article

Sharing:
  • 13
    Shares

Catatan Gowes Bpk Arief F. Rachman (Dosen STP Trisakti) Day 5

Rasa lelah masih terasa di pagi hari pada saat bangun. Jarak 200 km Borong-Ende benar-benar menguras energi dan endurance tubuh karena terkena hujan 100 km menjelang Ende. Kami bersiap untuk gowes rute hari ke-5. Namun ternyata cuaca tidak mendukung pagi ini. Hujan terus mengguyur kota Ende yang seharusnya musim kemarau di bulan Agustus ini. Makan pagi di restoran kami jadikan momen untuk berdiskusi rencana gowes hari ini. Akhirnya kami memutuskan untuk loading sampai Maumere sambil mampir di Kelimutu. Dengan segera kami packing tas kami dan loading sepeda ke supporting car. Sementara tas sepeda sepeda kami akan dibawa keesokan hari dengan kendaraan lainnya.

Setelah meninggalkan hotel kami mampir di salah satu biara Katolik PFJ untuk bertemu salah satu suster yang membantu mencarikan kami mobil sewa innova. Hal ini kami lakukan ternyata sewa mobil sewa dari hotel menuju Maumere (mampir di Kelimutu) terlalu mahal, sedangkan kami dapatkan harga yang bagus 3 kali lebih rendah.

Setelah berkunjung selama 30 menit akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Kelimutu. Perjalanan kami masih diiringi hujan lebat menuju Kelimutu. Kami sudah ragu apakah ini waktu yang baik untuk berkunjung ke Kelimutu? ternyata memang kami kurang beruntung. Kami tidak bisa mengunjungi Danau Kelimutu. Akhirnya kami hanya makan siang di restoran Kelimutu yang terletak dekat pertigaan jalan menuju Kelimutu. Rencananya kami akan bermalam di Moni. Tapi karena tidak jadi gowes maka rencana perjalanan berubah. Moni sebuah desa yang terletak 5 menit dari pertigaan jalan Kelimutu. Di desa ini banyak berkembang penginapam yang memang menjadi favorit wisatawan yang akan berkujung ke Danau Kelimut. Penginapan yang pertama dan terpopuler adalah Kelimuti Ecolodge.

Dari Moni kami langsung mengarahkan mobil kami ke area berikutnya. Sampailah kami tiba di Paga. Terdapat pantai yang indah, dikombinasikan dengan pegunungan. Di dataran yang agak tinggi kami mengunjungi Patung Yesus yang menghadap ke Pantai Paga.

Kami juga berkesempatan mengunjungi guesthouse yang sangat sederhana dengan nama Kaka Thino Guesthouse. Adapun tarifnya sebesar Rp. 150 ribu per malam (termasuk makan pagi). Setelah toliet stop dan minum kopi dan teh maka kami melanjutkan perjalanan menuju Maumere.

Sekitar pukul 4 sore kami tiba di Hotel Sylvia yang terletak di Jl. Gajah Mada, Maumere, Kabupaten Sikka. Hotel kami cukup memadai dan ternyata banyak juga wisatawan asing yang menginap di hotel ini. Dilengkapi dengan restoran dan lobi yang luas makan kami meletakan sepeda kami di dalaml lobi hotel.
Hari menjelang maghrib dan perut kami sudah bermain musik keroncongan. Selepas maghrib kami mencari makan malam yang khas, seafood. Agak sulit juga mencari makanan khas laut yang dimasak khas Maumere, kebanyakan ala Lamongan. Setelah berjalan 1 km kami mendapatkan penjual ikan bakar khas Maumere.
Khasnya ternyata mereka hanya menjual ikan bakar saja untuk take away, tidak melayani makan di tempat. Tapi karena kami tamu berasal dari Jakarta maka kami diberikan kesempatan untuk makan di dipan rumah mereka sambil melihat pembakaran ikan.
Kami memilih ikan tenggiri yang berukuran besar yang sangat menambah nafsu makan kami. Jarang sekali kami mendapatkan ikan kue yang masih segar untuk dibakar juga kami pilih. Kami melihat ikan yang segar karena matanya belum merah. Kami sangat beruntung.

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki dan diberi guyuran gerimis. Kami tidak langsung tidur, karena akan bertemu Pak Jufri yang mendukung transportasi kami selama perjalanan untuk mendiskusikan trip menuju Larantuka esok hari. Pada saat inilah kami mendapatkan berita gempa Lombok. Kami hanya berdoa supaya Pulau Flores aman dari gempa.

Author: malik

(Visited 19 times, 1 visits today)