Article

Sharing:

Mei Rahayu
(Penerima Beasiswa Unggulan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Angkatan 2014 - Jakarta)


Wai Kru ceremony merupakan budaya yang biasanya diterapkan di sekolah maupun Universitas di Thailand. Tujuan penyelenggaraan acara tersebut adalah untuk menunjukan rasa hormat antara siswa ke guru.

Kegiatan tersebut rutin dilakukan pada saat awal tahun ajaran baru. Lebih tepatnya acara tersebut terselenggara di minggu ke dua pada saat bulan september. Tak terkecuali di Burapha University International College (BUUIC). Universitas negeri yang terletak di Bangsaen, Chonburry, Thailand pun juga memeriahkan acara sakral tersebut. Di universitas tersebut dapat kita temukan beberapa mahasiswa  Indonesia yang menempuh pendidikan disana, banyak diantara mereka yang berasal dari Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta, dimana kampus tersebut telah lama bekerjasama dengan BUIIC, baik mengirimkan pertukaran pelajar atau yang biasa kita sebut dengan Student Exchange maupun mahasiswa yang ingin mendapatkan 2 gelar yakni Double Degree.

Lalu bagaimana dengan kelanjutan acara tersebut?

Acaranya sendiri dimulai dengan pembukaan yang dilakukan oleh Dean atau Ketua BUUIC. Kemudian dilanjutkan oleh pidato singkat dari perwakilan “Freshman Student”  disertai dengan pembacaan janji mahasiswa. Lalu ada nyanyian wai kru serta do’a untuk guru.

Dilanjutkan ke acara inti yaitu Pemberian rangkaian bunga untuk Dean BUUIC yang diwakili oleh para mahasiswa. Mahasiswa dari Indonesia yang diberikan kesempatan untuk mewakili ritual pemberian rangkaian bunga tersebut adalah mahasiswa STP Trisakti yakni 2 dari Double Degree program dan 2 dari Student Exchange. Rangkaian bunga yang mereka persembahkan pun bukan sembarangan bunga, karena dalam bunga yang dirangkai tersebut memiliki makna tersendiri.

Yang pertama Ixora atau khem  yang melambangkan kecerdasan yang tajam , selanjutnya Cynodon dactylon atau ya phraek dalam bahasa indonesia disebut rumput Bermuda dengan pertumbuhan yang cepat melambangkan ketekunan dan kemampuan untuk belajar , Kemudian ada bunga Muncul beras atau khao tok yang melambangkan disiplin serta bunga terung , yang membungkuk rendah saat mendekati berbuah melambangkan rasa hormat dan kerendahan hati.

Dan acara ritual tersebut ditutup dengan pemberian bunga ke dosen dengan rangkain bunga yang berbentuk gelang. Namun tidak hanya sampai disitu saja, karna para mahasiswa dari BUUIC pun unjuk kebolehan, yaitu mereka menampilkan Thai Dance.

Dan penampilan Thai Dance tersebut menandakan bahwa acara menjelang selesai, karena setelah acara tersebut ada acara yang tak kalah menarik yaitu “BAI SRI SU KWAN”. Jika dalam ritual wai kru mahasiswa memberikan rangkaian bunga ke dosen, maka kegiatan ini adalah kebalikannya, yaitu mahasiswa berbondong-bondong untuk mendatangi dosen kemudian dosen memberikan gelang ke mahasiswa disertai dengan do’a dan harapan  kepada mahasiswa.

Mei Rahayu(21), mahasiswa yang berasal dari Klaten, Jawa Tengah merupakanperwakilan Double Degree STP Trisakti. Dan dia pun menjadi salah satu mahasiswa yang yang telah mendapatkan program beasiswa unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,dia merasa takjub dengan acara tersebut, karena di Indonesia belum pernah melihat acara hari guru yang sangat menyentuh tersebut. Dimana makna yang didapat dari acara tersebut sangatlah banyak, seperti menumbuhkan rasa hormat dan respect kita terhadap guru. Harapannya adalah semoga kegiatan tersebut tidak hanya sebatas “kegiatan” saja, namun dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari. Dan sangatlah bagus jika Indonesia mengadakan hal serupa, karena keberhasilan Indonesia bergantung kepada mental para pemuda-pemudi Indonesia.


Author: admin-oke

Leave a Reply

− 6 = 2

 

(Visited 91 times, 1 visits today)