Article

Sharing:

Filia Yapriadi dan Meri Dwi Susanti


Kami adalah mahasiswi S1 dari Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti yang sedang menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampoeng Batik Kauman. Program KKN ini terbilang baru karena kami adalah angkatan S1 pertama yang ada di STP Trisakti. KKN merupakan mata kuliah yang wajib diikuti dalam semester akhir ini. Tujuan dari KKN tersebut adalah agar mahasiswa bisa menerapkan  segala sesuatu yang sudah dipelajari di kampus langsung di masyarakat, serta belajar hidup bermasyarakat di komitas tempat KKN berlangsung. Selama kurang lebih satu bulan di Kampoeng Batik Kauman, kami belajar sangat banyak tentang masyarakat setempat, yang salah satunya bagaimana cara kita saling menghargai orang lain serta bertanggung jawab penuh akan perbuatan yang kita lakukan di tempat ini.

Kami  memilih tema pembuatan batik ini karena merasa proses pembuatan batik di Kampoeng Batik Kauman masih menggunakan alat-alat tradisional seperti wadah kayu, canting yang terbuat dari tembaga serta masih menggunakan SDM yang tergolong cukup banyak sehingga rata-rata mata pencaharian masyarakat di Kampoeng Batik Kauman ini merupakan pengrajin batik. Tak hanya itu, kami juga mendapat kesempatan untuk mencoba melukis batik dengan menggunakan dua model, yang pertama kami mencoba batik cap yang memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi untuk menyamakan barisan cap satu sama lain. Model kedua kami juga mencoba batik tulis halus yang tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada batik cap dan tidak semua orang memiliki ketelatenan dalam proses pembuatan batik tersebut.

Sekarang kami akan mulai membahas tentang proses pembuatan batik dari salah satu workshop yang dimiliki oleh Bapak Hisyam yang bernama “Pranggok Batik Mas Pekalongan”.

Pertama-tama akan dibahas mengenai proses pembuatan batik tulis halus. Batik tulis halus biasanya dikerjakan oleh kaum pekerja wanita. Alat yang digunakan dalam proses pembuatan batik tulis halus adalah kain mori katun berwarna putih polos atau kain sutera yang telah digambar motif batik dengan menggunakan pensil. Kemudian gambar tersebut akan ditimpa menggunakan lilin yang telah dicairkan di atas wajan panas dan canting yang merupakan alat untuk melukis motif tersebut. Canting sendiri mempunyai berbagai macam diameter, salah satu yang sering digunakan yaitu diameter 1 & 2. Motif bunga dan daun yang ada di motif tersebut akan ditambahkan sedikit hiasan di dalamnya seperti titik-titik atau garis halus untuk mempercantik motif tersebut. Pembuatan batik tulis halus memiliki hasil yang berbeda-beda karena masing-masing pekerja memiliki kreatifitas yang berbeda-beda pula.

Model kedua yaitu proses pembuatan batik cap. Cap yang digunakan untuk membuat batik menggunakan canting tembaga yang berbeda dengan canting batik tulis halus, alat-alat yang digunakan yaitu kain katun putih, wajan dan lilin khusus cap.

Proses pembuatan batik cap pertama-tama kain putih tersebut  di cap sesuai dengan motif yang diinginkan. Setelah selesai proses pengecapan kain tersebut direndam dengan air sabun agar saat proses pewarnaan, warna tersebut akan tetap cerah. Setelah itu sebelum proses pewarnaan, kain yang sudah direndam dengan air sabun harus dicuci terlebih dahulu dengan air bersih. Setelah dicuci barulah kain tersebut diwarnai.

Proses pewarnaan batik tulis halus sama dengan pewarnaan batik cap, yaitu pertama-tama kain tersebut dimasukkan ke dalam wadah kayu (kerekan) yang di dalamnya terdapat tongkat kayu panjang, yang berguna untuk menahan kain yang direndam pewarna agar tidak mengambang di permukaan. Lalu ada dua orang pekerja yang berhadap-hadapan untuk mengayunkan kain tersebut agar pewarnaannya merata ke seluruh kain. Setelah diwarnai, kain tersebut akan dicelupkan (dilorot) ke dalam air mendidih selama kurang lebih 10 menit. Setelah itu kain tersebut akan dijemur dan jadilah kain batik. Biasanya kain batik yang telah jadi akan dibuat menjadi pakaian atau produk kreatifitas lainnya oleh para pengrajin batik.

Jadi, berbagai macam proses pembuatan batik ini memiliki keunikan dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Hasil dari masing-masing proses pembuatan juga memiliki beragam jenis dan rupa. Kami belajar banyak pengetahuan tambahan selama mewawancarai dan mencoba langsung dua proses pembuatan batik tersebut. Kami sangat berharap bahwa proses pembuatan batik secara tradisional ini terus diterapkan di Kampoeng Batik Kauman ini sehingga dapat membedakan hasilnya dengan batik yang lain.




Author: admin-oke

Leave a Reply

(Visited 26 times, 1 visits today)